Showing posts with label dream. Show all posts
Showing posts with label dream. Show all posts

Tuesday, 3 April 2012

Life essential skills: dreaming and letting go

Tahun ini saya ketemu seseorang yang bilang ingin menulis buku. Buku apa? Buku tentang mimpinya. Karena dia merasa telah melakukan berbagai pencapaian hingga ia berada disini sekarang. Lalu dia seperti mengaca ke saya, kenapa kamu ga nulis buku tentang mimpi kamu?

Saya tercekat.Terus berbagai pikiran berkecamuk di kepala saya. Bok, saya kan bukan Andrea Hirata atau mario Teguh. Siapa sih gw? *garuk-garuk kepala*
Tapi terus kepikiran lagi, hidup ini haruslah terus berbagi dan menginspirasi, ya ga sih? Apa kita mulai aja penulisan buku tentang mimpi itu ya?*garuk-garuk kepala* *ketombean kayaknya*

Lalu saya flashback deh.
Kata siapa saya ga suka bermimpi. Hobinya tidur ya pasti bermimpi dong. Hihihi. Dan ya saya ada disini juga karena cukup banyak pingin ini pingin itu. Mungkin kalau pertanyaan untuk nulis buku tentang mimpi dilontarkan dua tahun yang lalu, sekitar tahun 2009, saya akan dengan antusias, ayo kita bermimpi! Tuhan begitu murah hatinya pada saya di tahun-tahun itu. Rata-rata kepinginan saya dikabulkan semua.Tapi di tahun 2010 dan 2011, saya belajar hal lain yang ternyata lebih penting dari bermimpi.

Perbandingan antara tahun 2009 dan 2010-lah yang membuat saya merasa diuji berkali-kali.
Tahun 2009: mahasiswa, miskin tapi bahagia, banyak teman, punya pacar, punya sesuatu yang dikejar semacam nilai A, pesta pora, mabuk-mabukan, pacaran, jalan-jalan dan jatuh cinta berkali-kali pada si ganteng.
Tahun 2010: pengangguran, semakin miskin dan semakin ga bahagia, kehilangan banyak teman, jomlo sejomlo-jomlonya, bingung mau ngejar apa, jarang pesta, mabuk-mabukan sih teuteup, pacaran sama tembok, ga jalan-jalan karena ga punya uang dan kehilangan sosok buat jatuh cinta.
Hah.
Saya ga ngerti, Tuhan ko tiba-tiba merenggut semua yang indah-indah di tahun sebelumnya. Ini gimana ini maksudnyaaa...
Saya bermimpi punya kehidupan yang membuat semua orang iri, tapi terus saya yang iri pada kehidupan orang lain. Saya ini maunya apa siiihhhh?? *nangis kejer*

Jadi ya begitulah. Di tahun 2010 saya mati-matian mempertahankan sikap positif saya. Saya selalu percaya semua ini ada jawabannya. Tapi rasanya lelah sekali kalau surat lamaran ditolak, pergi kencan dengan cowok-cowok buwek, lalu hau hau kangen si mantan. Energy saya habis untuk tersenyum di depan orang-orang. Di banyak titik, saya ingin berhenti, menyerah pada keadaan dan tanda tangan surat nikah. *lho?* eh salah. Ya, di banyak titik, saya ingin sekali teriak-teriak ke dunia luar, udahlah situ ga usah mimpi, life sucks anyway if you don't get your dreams. Tapi ya enggak dong, orang lain cuman senyum-senyum penuh arti dan mereka ga ngerti kalo ada orang yang ga bisa mencapai mimpinya.
Saya ditempatkan di posisi terlalu banyak mimpi dan bingung harus ngapain untuk meraihnya. Semua usaha saya ke arah sana, seolah-olah digagalkan oleh tangan-Nya. Saat surat lamaran terakhir saya untuk magang di US ditolak, akhirnya saya ya udahlah. Mabuk-mabukan saja. Haha. Saya akhirnya pasrah dan lalu berdendang bersama Corinne Bailey Rae. Mari kita nonton konser Cranberries, jingkrak-jingkrak dan bahagia saja dengan apa yang sudah dimiliki. Syukur masih punya kerjaan, masih punya teman-teman yang seru diajak ngobrol. Dalam soal jodoh, saya bertemu seorang teman yang dengan cerdasnya bilang "Lebih seru proses pencariannya Dit, daripada pas udah nemu." Ah, benarkah? Saya orang yang percaya pada proses, maka dari itu, yuuukkk kencan lagi. Hihi.

Attitude saya jadi sedikit berubah. Akhirnya saya berhasil kembali mencintai dunia ini, walaupun saya berpijak di bumi dan bukan terbang meraih mimpi-mimpi saya. Enak rasanya, karena bumi toh indahnya bukan main. Saya ingin pasang foto-foto liburan di tempat keren semacam di Gold Coast, tapi ya kalau memang liburannya di UK alias Ujung Kenteng, itu juga asik. Saya pingin pamer apartemen keren, tapi ya in the meantime kostan saya di Kebon Sirih sungguhlah sangat nyaman. Saya pingin pamer tanline pulang dari Bali, tapi tanline saya ini akibat sering naik ojek keliling Jakarta, tapi ya keren juga kok. We can be better, but we what we have is good enough.

Jadi saya berpikir ulang kalau harus menulis buku tentang mimpi. Saya mau nulis teenlit saja. Tentang anak remaja yang pandai bermimpi tapi juga berlapang dada akan segala perubahan dirinya.

Tuesday, 5 May 2009

I work with fire




This end of weekend (how strange it sounds) we went to the park. There was a carnival and a fireworks show by the lake. People stand up and held their head up to the sky. Kids were running around and sometimes plugged their ears with fingers. The photographers set up their tripods and captured the show neatly. And me? I feel like living in one of my dream. The transition between day and night time made everything a bit blurry. But still, I amused my self with the company. Carnival is always about rushing your adrenalin and indulge your sugar level. Couples might love to spoil each others by winning the dolls or wacthed the town from the top of ferris wheel. Or probably just sit side by side, amongst the crowd watched the bright tones in the sky. Why did people invent this show? Was it inspired by the war? That night I watched the fire in a quiet close distance, and I just realized beside the big bang sound, they made a strange creepy sounds. Well, I know people were there for the visual entertainment, not to spoil their ears. On the contrary it might be damagable.
What do you think? What’s so good about fireworks? The explosion, the color or the shape? The crowd, the lens you have or someone who hold your hand when you watch the last splash?

Wednesday, 17 September 2008

Enschede on Sunday




We're gonna have a picnic in the park.
You, and me, and all the people we love.
We're gonna have ginger ale or temulawak or anything you like.
I will walk on the sidewalk and you will hold my hand.
We're gonna stop by the ice cream parlor and taste the rum raisin flavor.
You will see a decent house and dream we are the oma opa who had the tea.
I stop by at the window of pizza restaurant and pretend we order margerita.
You stop as well, and steal a kiss.

And this is what I mean about I like to dream big.