Recently, I got tired by people asking questions. Maybe I become more individualistic and restricted my self to general unimportant questions like the weather today or who’s number one artist on top40 chart. But for me, asking about my life, my personal life, touch the heart of me, not in a good way. Because, then I think, feel and remember people and then be sad. See? Not good.
I tend to think too much. About everything, every simple to complicated things. Yesterday, we watch Amazon documentary movie and amazed by how many giant creatures lives under that fresh water. I was munching huge strawberries and suddenly thought about how big strawberries can be in Amazon area. Could it be? The answer never arrived as the scientist was catching another giant creatures with red tails and we discussed how many people can finish it in one go.
Most of the times the questions just flash and disappear into thin air. But I get easily irritated by personal questions that stick to my ear too long. I can not answer them by one simple sentence, I need cups of coffee to talk it over. But by the tone of the questions, I knew they don’t bother. They want me to be simple, just like they do, but I can’t.
Possibly, this is due to hormonal cycle. Or a pressure on how slow my writing is going. Or how badly I will miss the people here. Or anything. But every time I pop my head in front of them, the questions always pop up as well. And there I go again, annoyed. I really wish those people disappear into thin air.
Spending my last time here, I figure out maybe I changed too much. I look older but I would rather blame my hairstyle. But hey, of course I do change. I think, feel and learn. I meet people that I never thought before and feel them. If I don’t change, then who’s to blame?
Okay, previous warning is my spontaneous act and it didn’t stop people from questioning me. It even made it worse. So, I would publish this one and reminds everyone who read it with heart, please do careful with your words. Learn to write or read a good book and you will know how words can be so powerful.
Moral of the story: they don’t grow strawberries in Brazil, they plant corn and beans instead. Magically, my biologist friend always has answers even for my silly questions. That’s why I stick to him for the time being.
Showing posts with label naonlah. Show all posts
Showing posts with label naonlah. Show all posts
Sunday, 17 January 2010
Monday, 1 June 2009
Cewek single males masak
Yang pertama, temen deket saya yang memangnya adalah seorang wanita luar biasa beranak dua, posting tentang susah senangnya menjadi Ibu. Lalu ada temennya (yang sebenernya ga saya kenal) komentar begini: “Berbahagia lah para suami yang mempunyai istri pintar dan berpendidikan tinggi yang dgn kebesaran hatinya, mereka memilih utk lebih mengutamakan keluarganya daripada kerja kantoran..” >> dikutip mentah-mentah. Saya kok rasanya pingin nampar2in bapak yang nulis ini ya. Ga tau untuk alasan apa, saya kok kayak kesentek gitu ya. Tapi terus saya malu, karena sadar, mungkin itu cuma karena saya aja yang sekarang masih terlalu egois sehingga kerja yang banyak jalan-jalannya. Saya pun mengurungkan niat untuk membalas komentar penyulut pertengkaran.
Lalu, seorang temen saya yg pintar sedang kangen sama ceweknya yg berjauhan. Hehe, selamat long distance relationshit ya, mas. Dia posting foto ceweknya yang memang cantik itu. Lalu ada cewek yang komen: “..menikahlah, biar bisa dibawa kesini, ada yang masakin, ada yang nemenin..kan enak tuh..wakakak..” >> Lagi-lagi dicopy paste mentah-mentah dari sumber.
Saya merasa kesentek lagi (btw, bahasa indonesianya kesentek apa ya?) Kok gitu sih? Tadinya mo komentar, kawin aja sama babu. Tapi ya, saya sadar udah terlalu banyak bertengkar sama cewek itu, jadi ya udahlah. Lagian takut si cewek cantik (pacar si cowok pintar) itu disangka babu.
Lalu tadi kan lagi becanda-becanda sama temen saya yang sudah beranak dua, tentang bagaimana para lelaki setelah menikah jadi melar gila-gilaan. Saya iseng melontarkan kalimat, “Duh, gimana gue ya. Gue kan sukanya cowok kurus. Apa cowok gw ga usah gw nikahin aja ya, biar kurus terus?” Terus dia bilang, “Ga akan gendut, Dita kan jarang masak.” Dalam hati saya, ngehe lu, laki gw emangnya orang susah, ga dimasakkin ya tetap makan dong. Dan sedikit emosi saya bilang, “Ya, gw cari suami yang bisa masak sendiri dong.” Lalu dia becanda yang salah banged, “Berarti tambah kurus dong, karena ngenes harus masak sendiri.” Dan meledaklah saya, “Ya udah nikah sana sama babu.”
Ada apa sih dengan saya? Ada apa sih dengan orang-orang di luar sana?
Mungkin saya terasuki hantu feminis menakutkan, karena sebagai wanita saya merasakan bahwa saya terkungkung stereotype seorang istri. Yang harus masaklah, nyuciin baju suami, ngepel lantai, dsb. Yang jelas, kalau suatu saat nanti saya menikah, saya ga mau suami saya menikahi saya gara-gara pingin dimasakkin, pingin dicuciin dan pingin ditemenin. Gosh, ngegaji koki sama beli mesin cuci dan radio butut kayaknya lebih gampang daripada nyari istri. Eh atau lebih susah ya? Hihi.
Bukannya saya ga mau masakkin atau nyuciin bajunya, tapi ya saya ga pingin aja urusan domestik dibebankan ke saya. Bilang saya males, bukan istri yang baik, atau apalah terserah, tapi ya itulah saya. Saya bukan seorang yang menikmati masak, tapi bisa nyanyi-nyanyi kegirangan sambil nyuci mobil. Mungkin saya ga telaten bersihin rumah, tapi saya suka kok nyuci baju. Jadi intinya adalah, saya senang main air. Lho? Bukaaaann… Intinya, hal-hal kayak gitu kan bisa dibicarakan. Saya bener-bener kesel karena seorang istri memiliki keterbatasan dalam menentukan hidupnya. Yang kayak gini nih yang bikin saya males nikah. Bukannya saya ga laku. Hahhahaa.
Mungkin sedari saya kecil, saya memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan. Beberapa orang bahkan pernah berkomentar, saya itu free soul, ga bisa dimiliki. Mereka ga pernah membayangkan diri saya bisa menikah dan tunduk pada suami. Yeah, somehow, saya juga agak-agak takut sih. Bukan agak, tapi takuuut banged. Selama ini saya mendesain diri saya untuk bisa berdiri sendiri, ga tergantung sama orang lain. Rasanya enak. Dan setelah saya merasa berhasil, saya dengan entengnya bisa bilang pada mereka, “Hey, ini hidup gue, urusin idup lo sendiri!” Mungkin pikiran untuk ngikutin kata suami, harus mempertimbangkan pendapat suami, harus basa basi ikutan acara keluarga, membuat “kebebasan” saya sedikit tercabut.
But, what do I know about married? Nothing. Minimnya pengalaman saya dalam menikah (ya memang belum ada, masih single ting ting begini), membuat semua sumpah serapah saya tentang pernikahan jadi nonsense. Yang saya tau cuma the joy of being single, although not available ;) Mungkin aja setelah menikah, ternyata suami saya adalah orang yg masakannya enak, mau nyuciin semua baju saya (walopun itu berarti sedikit kesenangan saya main air diambil olehnya), dan ga keberatan saya jadi cewek pemalesan yang setiap harinya leyeh-leyeh nonton DVD atau kerajinan manjat dinding supaya tangan kokoh. Kalo kayak gitu kan enak. Karena terus terang, saya membutuhkan seseorang yang merawat saya saat hangover. Haha, itu berarti doi ga bisa ngelarang saya ngebir.
Doakanlah, nanti saya akan menemukan compatible partner, dimana dia memandang pernikahan sebagai bentuk baru dalam menjelajahi dunia ini. Menemani saya merangkai mimpi, merancang strategi mewujudkannya dan jadi rekanan paling top untuk memperkaya khasanah pengetahuan. Tidak sebatas urusan dapur dan kasur.
Hehe, kawin aja sama ensiklopedia, Dit.
Sedikit pembicaraan menyangkut tema ini dilakukan tadi malam.
“It would be nice to have someone to wake up by my side.”
“Yeah, I agree.”
“But, the person doesn’t have to be a wife.”
Laughing out loud.
“Oh, I am feeling like a very bad girl for thinking like that.”
Subscribe to:
Posts (Atom)