Friday, 30 November 2012

Day 13 - a song that is a guilty pleasure


Haaaah. Kembali stuck dengan tema memesong yang membuat bingung. *celingak celinguk*
Tapi daripada terhanti sedangkan tantangan meme ini belum juga sampai setengahnya, lebih baik kita lanjutkan saja. Dengan apapun caranya.

<b>Sunday Morning – Maroon 5</b>

<i>Sunday morning rain is falling
Steal some covers share some skin
Clouds are shrouding us in moments unforgettable
You twist to fit the mold that I am in
But things just get so crazy living life gets hard to do
And I would gladly hit the road get up and go if I knew
That someday it would bring me back to you
That someday it would bring me back to you

That may be all I need
In darkness she is all I see
Come and rest your bones with me
Driving slow on sunday morning
And I never want to leave

Fingers trace your every outline
Paint a picture with my hands
Back and forth we sway like branches in a storm
Change the weather still together when it ends

That may be all I need
In darkness she is all I see
Come and rest your bones with me
Driving slow on sunday morning
And I never want to leave

But things just get so crazy living life gets hard to do
Sunday morning rain is falling and I’m calling out to you
Singing someday it’ll bring me back to you
Find a way to bring myself home to you

And you may not know
That may be all I need
In darkness she is all I see
Come and rest your bones with me
Driving slow?</i>

<iframe width="425" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/S2Cti12XBw4" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe>

Salah satu hits favorit saya dari Maroon 5. Lalu, what’s so guilty about this song? Halal-halal aja disukai toh. Lagunya memang enak, dentingan pianonya asik, liriknya juga yeah, khas album <i>Songs About Jane</i>, tentang patah hati. Dan Adam Levine di video klip ini terlihat sangat sexy dengan kaos lengan panjang dan sneakersnya, menari-nari bikin gemes.

Baiklah dimulai curcolnya. Lagu ini, walaupun sudah berkali-kali dinyanyikan saat karaoke, dan diputar mengiringi berbagai pejalanan, tetap saja selalu mengingatkan masa muda dulu. Ups, ketauan tuanya.

Jadi dulu itu, masa muda ceria itu, diwarnai dengan gejolak kembang belia. Hehe. Malam minggu biasanya diisi dengan behura-hura, pergi nonton konser, ke club, get other people very drunk karena dulu saya ga minum alkohol, lalu menginap. Keesokan harinya, minggu pagi, biasanya saya dianterin pulang ke rumah. Maka ditempuhlah perjalanan cukup panjang, dan bukan berarti bebas hambatan. Dulu belum jaman nyolokkin iPod ke sound system mobil, dan kami berpuas dengan mendengarkan kaset. Di mobilnya hanya ada beberapa kaset, tapi yang selalu diputar adalah album Jane-nya Maroon 5 ini.
Tentu saja lagu favorit adalah Sunday Morning. “Pas banget ya, ini kan Minggu Pagi.” Bernyanyi-nyanyi sepanjang jalan tol yang cukup lengang. Lebih sering panas daripada hujan. Saya masih dengan mata ngantuk dan dia masih sedikit pusing. Tapi kami hanya berdua di mobil dan terus terang saya menikmati kesendirian ini. Diiringi Adam Levine yang berdendang, “Driving slow in Sunday Morning, and I never want to leave.” Kami berdua, muda dan bahagia.

Perasaan bersalah akan merayap setelahnya. Maka itu, setelah saya didrop di rumah, saya akan menyalakan handphone lalu mengetik sms <i>“Hai say! Sorry tadi malem hp-nya abis batre. Dita ketiduran/nginep di rumah ___ (insert nama temen cewek)/begadang nulis/main game. Hari ini mau kemana? Kita lunchdate yuk!”</i>

Day 14 - a song that no one would expect you to love


Akibat selera musik saya yang cukup random, rasa-rasanya setiap jenis musik dan lagu memiliki peluang yg sama untuk disuka ataupun dibenci. Tapi beberapa orang cukup terkesiap saat melihat ada band ini terselip di daftar Artist di iPod saya. Edan Dita, jadul banget.
Saya mengernyitkan kening. Carpenters bukannya lebih jadul ya?

Sebenarnya saya juga ga menyangka bahwa saya dengan semangat menaikkan lagu-lagu the Bijis di iPod. Sengaja ngedengerin, niat betul. Apalagi dulu sering sekali bernyanyi-nyanyi plesetannya Staying Alive menjadi “Lah lah lah lah sayangilah sayangilah...” Kok ya dipoyok dilebok, excuse my French.
Tapi setelah mencermati beberapa lagu lainnya, they are not bad. Saya bisa bolak-balik dengerin Run to Me dengan ekspresi termehek-mehek atau bernyanyi Too Much Heaven dengan sepenuh hati. Dan dari semuanya, lagu berikutlah yang jadi favorit:

<iframe width="425" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/32gAi27WrSU" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe>

Lho kok malah yg versi Feist? Karena cari-cari di Youtube, versi Bee Gees ga ada official video-nya. Lagipula, lirik lagunya lebih sesuai kan: “I’m the girl who loves you inside and out, backward and forward with my heart hangin’ out.” Oh oh, bagian favorit saya yang ini nih: “Too many lovers in one lifetime, ain't good for you,” yang diteruskan di bagian berikutnya “Too many heartaches in one lifetime ain't good for me.” Duh, karunya teuing euceu. Oops, excuse my French again.

Baiklah pemirsa, put on your bell-bottom pants, your wedges and that flower-printed shirt. Let’s dance to the song :)

Tuesday, 3 April 2012

Life essential skills: dreaming and letting go

Tahun ini saya ketemu seseorang yang bilang ingin menulis buku. Buku apa? Buku tentang mimpinya. Karena dia merasa telah melakukan berbagai pencapaian hingga ia berada disini sekarang. Lalu dia seperti mengaca ke saya, kenapa kamu ga nulis buku tentang mimpi kamu?

Saya tercekat.Terus berbagai pikiran berkecamuk di kepala saya. Bok, saya kan bukan Andrea Hirata atau mario Teguh. Siapa sih gw? *garuk-garuk kepala*
Tapi terus kepikiran lagi, hidup ini haruslah terus berbagi dan menginspirasi, ya ga sih? Apa kita mulai aja penulisan buku tentang mimpi itu ya?*garuk-garuk kepala* *ketombean kayaknya*

Lalu saya flashback deh.
Kata siapa saya ga suka bermimpi. Hobinya tidur ya pasti bermimpi dong. Hihihi. Dan ya saya ada disini juga karena cukup banyak pingin ini pingin itu. Mungkin kalau pertanyaan untuk nulis buku tentang mimpi dilontarkan dua tahun yang lalu, sekitar tahun 2009, saya akan dengan antusias, ayo kita bermimpi! Tuhan begitu murah hatinya pada saya di tahun-tahun itu. Rata-rata kepinginan saya dikabulkan semua.Tapi di tahun 2010 dan 2011, saya belajar hal lain yang ternyata lebih penting dari bermimpi.

Perbandingan antara tahun 2009 dan 2010-lah yang membuat saya merasa diuji berkali-kali.
Tahun 2009: mahasiswa, miskin tapi bahagia, banyak teman, punya pacar, punya sesuatu yang dikejar semacam nilai A, pesta pora, mabuk-mabukan, pacaran, jalan-jalan dan jatuh cinta berkali-kali pada si ganteng.
Tahun 2010: pengangguran, semakin miskin dan semakin ga bahagia, kehilangan banyak teman, jomlo sejomlo-jomlonya, bingung mau ngejar apa, jarang pesta, mabuk-mabukan sih teuteup, pacaran sama tembok, ga jalan-jalan karena ga punya uang dan kehilangan sosok buat jatuh cinta.
Hah.
Saya ga ngerti, Tuhan ko tiba-tiba merenggut semua yang indah-indah di tahun sebelumnya. Ini gimana ini maksudnyaaa...
Saya bermimpi punya kehidupan yang membuat semua orang iri, tapi terus saya yang iri pada kehidupan orang lain. Saya ini maunya apa siiihhhh?? *nangis kejer*

Jadi ya begitulah. Di tahun 2010 saya mati-matian mempertahankan sikap positif saya. Saya selalu percaya semua ini ada jawabannya. Tapi rasanya lelah sekali kalau surat lamaran ditolak, pergi kencan dengan cowok-cowok buwek, lalu hau hau kangen si mantan. Energy saya habis untuk tersenyum di depan orang-orang. Di banyak titik, saya ingin berhenti, menyerah pada keadaan dan tanda tangan surat nikah. *lho?* eh salah. Ya, di banyak titik, saya ingin sekali teriak-teriak ke dunia luar, udahlah situ ga usah mimpi, life sucks anyway if you don't get your dreams. Tapi ya enggak dong, orang lain cuman senyum-senyum penuh arti dan mereka ga ngerti kalo ada orang yang ga bisa mencapai mimpinya.
Saya ditempatkan di posisi terlalu banyak mimpi dan bingung harus ngapain untuk meraihnya. Semua usaha saya ke arah sana, seolah-olah digagalkan oleh tangan-Nya. Saat surat lamaran terakhir saya untuk magang di US ditolak, akhirnya saya ya udahlah. Mabuk-mabukan saja. Haha. Saya akhirnya pasrah dan lalu berdendang bersama Corinne Bailey Rae. Mari kita nonton konser Cranberries, jingkrak-jingkrak dan bahagia saja dengan apa yang sudah dimiliki. Syukur masih punya kerjaan, masih punya teman-teman yang seru diajak ngobrol. Dalam soal jodoh, saya bertemu seorang teman yang dengan cerdasnya bilang "Lebih seru proses pencariannya Dit, daripada pas udah nemu." Ah, benarkah? Saya orang yang percaya pada proses, maka dari itu, yuuukkk kencan lagi. Hihi.

Attitude saya jadi sedikit berubah. Akhirnya saya berhasil kembali mencintai dunia ini, walaupun saya berpijak di bumi dan bukan terbang meraih mimpi-mimpi saya. Enak rasanya, karena bumi toh indahnya bukan main. Saya ingin pasang foto-foto liburan di tempat keren semacam di Gold Coast, tapi ya kalau memang liburannya di UK alias Ujung Kenteng, itu juga asik. Saya pingin pamer apartemen keren, tapi ya in the meantime kostan saya di Kebon Sirih sungguhlah sangat nyaman. Saya pingin pamer tanline pulang dari Bali, tapi tanline saya ini akibat sering naik ojek keliling Jakarta, tapi ya keren juga kok. We can be better, but we what we have is good enough.

Jadi saya berpikir ulang kalau harus menulis buku tentang mimpi. Saya mau nulis teenlit saja. Tentang anak remaja yang pandai bermimpi tapi juga berlapang dada akan segala perubahan dirinya.

Friday, 10 February 2012

Muntahan karyawan

Udah lama ga ngisi, maka marilah kita iseng..

Seharian ini saya lagi amaze sama diri sendiri dan tentunya hidup ini, sama mau dibawa kemana hubungan kita. nggak ding.

jadi ya sodara-sodara, sepulang dari kuliah di belanda kmaren itu, saya punya hobi baru: bikin grafik. bukan desain grafik seperti poster, cover album ataupun lay-out majalah. itu mah hobi jaman dulu waktu kuliah, hehe. grafik yg sekarang itu bentuknya.. hmm apa ya. kalo bahasa inggrisnya sih charts. yg type-typenya antara lain bar chart, pie chart, bubble chart, radar, dsb. para pengguna microsoft excel pasti ga asing dengan bentuk2annya.

nah, kenapa bisa hobi? itu pun saya ga mengerti.
tapi yg jelas, waktu ambil mata kuliah Data Exploratory, saya dibikin ternganga-nganga dengan kemampuan visualisasi data ini. bukan pada rumus-rumus statistiknya. tapi lebih kepada, bagaimana tampilan yg berbeda dari data, bisa membuat orang punya pemikiran yg berbeda juga. ibaratnya gini ya, kalo ada data: A punya anak 3, B punya anak 2, C punya anak 5, D ga punya anak 1. Nah kalo kita baca sekilas, perasaan ini cuma laporan produktivitas seseorang aja, dan ga semua orang bisa langsung kepikiran, ya oloh anaknya C banyak amat. tapi kalo dibikin bar chart sederhana aja, begitu orang ngeliat, semua perhatian tertuju pada C. kalo orangnya macam saya, suka mengaitkan pada cerita-cerita yg kadang ga nyambung. contohnya, apa di rumah C ga ada listrik ya sehingga dia lebih suka bikin anak daripada main Wii.

saya juga mulai tergila-gila sama tampilan, istilahnya 'art'-nya grafik. contoh nyata, kalo bikin grafik pake microsoft excel 2003, default otomatis grafiknya tuh buruk banget, menurut saya. terlalu ribet padahal katanya sih, desain yg paling bagus itu yg simpel. saya sering menghabiskan berjam-jam cuman untuk ganti2 warna grafik sama mengutuki microsoft excel 2003 yg menyalahi kaidah2 desain.

nah hobi ini jarang saya liatin ke orang-orang. agak2 ga lazim emang kalo ada cewek bawa-bawa laptop untuk bikin2 grafik di microsoft excel. apalagi R. beuh, super nerdy banget itu R. bayangkan aja, paket statistik yang pengoperasiannya pake skrip. alias kalo mau bikin tabel itu, kita bukannya klik Insert Charts, melainkan nulis: plot(jumlahanak.txt,color="green',width="3"). atau semacam itulah, udah lupa juga skrip R kayak gimana.
eh kok malah jadi ngomongin R. maksudnya adalah, mbok ya laptop itu digunakan untuk fungsi umumnya saja. buat nulis blog menyek2, edit-edit foto sama facebook-an dan youtube-an.

singkat kata, singkat cerita, saya disini sekarang, kerja. dan sampai sekarang saya masih takjub, bahwa sekarang ini saya dibayar untuk: yak, bikin grafik!!

grafik2nya pun kadang sederhana aja, bukan yg canggih2 mind mapping atau jaringan koneksi kereta bawah tanah London tube. kadang cuman perbandingan jumlah truk air yang mampir di Somalia dari bulan Agustus - Desember 2011. tapi saya harus mendandani grafik itu semanis mungkin, tentu saja dengan bbrp ketentuan style-nya si organisasi ini. tapi teuteup aja saya masih amazing. bisa ya akhirnya ada yg menggaji saya untuk ngerjain yg beginian. lebih canggih lagi, kadang saya harus nulis manualnya, trus ngajarin orang2 untuk bisa bikin grafik yang mirip.

terima kasih ya Tuhan ya. sekali lagi, kamu paling tahu apa yg aku mau deh. muwah.
juga untuk mau dibawa kemana hubungan kita :)


Tuesday, 31 May 2011

Day 05 - a song that reminds you of someone

Aaaarrggghhh... udah seharian berusaha mikirin lagu yang ujungnya ga menyek-menyek tapi entah kenapa di kepala cuman ada lagu ini.

Heart of Me – Carpark North

You always take the heart of me
and leave it there it stays to be
what is it for?
do you want more?

it takes a while to grasp on to
, the softness of a heart anew
what is it for?
why did you wrong me?

in the bus
, I fall all the time
my feet give up
, and gravity is mine
I throw myself
from anything that's tall
and fall

I want to live
and learn to love
and you're the one
I put above
but what is it for?
could there be more?

in the bus
, I fall all the time
my feet give up
and gravity is mine
I throw myself

from stairs and trains
from trees and planes
as long as I can fall

 

Dan dengan sangat terpaksa, someone-nya tetap anonimus. Maaf, tidak bisa disebutkan disini. Tapi kalau beneran mau tahu, ajak saya ketemuan dan saya akan menjelaskan dengan mata berbinar-binar. Hihihi.

Jadi saya mendedikasikan lagu ini buat Mas-nya, karena setiap kali ketemuan saya pasti bawaannya pingin dengerin lagu ini terus-menerus. Seharian, player saya akan memainkan lagu yang sama, back to back, sambil nemenin saya ngelamun. Saya norak? Ember!

Ga banyak yang bisa diceritain tentang lagu ini alias ini kok di wikipedia ga ada keterangan apa-apa ya? Hihihi. Saya pun nggak sengaja menemukan lagu ini di antara tumpukan lagu di hard drive. Seketika suka, karena lagu ini membawa efek-efek melayang. Sama seperti Mas-nya. Ihiw.

Seminggu yang lalu, makan malam bersama teman dekat. Kami bertukar cerita tentang how’s life recently. Dia memang baru putus, sementara dia cerita saya manggut-manggut sambil berulang kali bilang ‘I feel you’. Lalu dia bilang merasa tertusuk-tusuk setelah nonton Meet Joe Black, dimana William Parish ngomong begini: Love is passion, obsession, someone you can't live without. I say, fall head over heels. Find someone you can love like crazy and who will love you the same way back. How do you find him? Well, you forget your head, and you listen to your heart. And I'm not hearing any heart. Cause the truth is, honey, there's no sense living your life without this. To make the journey and not fall deeply in love, well, you haven't lived a life at all. But you have to try, cause if you haven't tried, you haven't lived.’

Itulah alasannya untuk akhirnya putus maning. Singkat cerita, dia memilih untuk kembali single dan berpetualang mencari someone yang membuatnya merasakan apa yg dibilang William Parish.

“Gue juga!!”

Dia langsung menatap saya dengan sebal, “Dita, elo mah  gampang.”

Sepulang makan malam, saya termangu-mangu spontan menyalakan player dan memutar Heart of Me. Bawaannya melamun makin khusyuk sambil mikirin Mas-nya (aduh lama-lama istilahnya getek yah, punten ih). Hmm... Sudah lebih dari empat tahun, dan setiap kali ketemu, rasanya selalu sama. Deg-degan tapi senang. Dan sesudahnya, persislah sama lirik Heart of Me. Saya suka bagian: “I throw myself from anything that’s tall, and fall..” Bukan hal yang aneh sih, buat orang yang kebanyakan listen to the heart and forget the head :P am i considered a lucky one? I like to believe so :)

Oia, pernah suatu hati dia datang lalu seperti biasa, kami mengobrol dan tertawa-tawa, akrab. Sengaja dong hanya satu lagu, Heart of Me yang dipasang di media player. Setelah lewat berjam-jam akhirnya dia nanya, “Ga ada lagu lain ya?”


Monday, 30 May 2011

Day 04 - a song that makes you sad

Ketahuilah, saya ini anaknya memang cengeng. Jadi jangan heran kalau ga susah juga nyari lagu untuk kategori ini. Dan seperti biasa yang susah adalah memilihnya.

Ah tapi, rasanya kali ini bukan tugas sulit. Karena terbukti, sering bangetlah saya nangis sesenggukan setiap kali dengerin lagu ini: Landslide.

Pertama denger lagu ini adalah versi Smashing Pumpkins sebagai single terselip di kompilasi Pop is Dead 2, waktu itu ga ngerti tentang apa jadi ya nyanyi-nyanyi aja. Kemudian beberapa tahun berlalu, dan lupa deh baca di blog siapa, ternyata lagu Landslide bisa juga bercerita tentang Ayah. Tentang seorang anak yang beranjak dewasa dan ketakutan akan kehilangan figur sang Ayah.

I took my love and I took it down

I climbed a mountain and I turned around
And I saw my reflection in the snow-covered hills
Well, the landslide brought me down

Oh, mirror in the sky, what is love
Can the child within my heart rise above
Can I sail through the changing ocean tides
Can I handle the seasons of my life

Uh uh... uh uh, uh uh

Well, I've been afraid of changin'
Cause I've built my life around you
But time gets bolder
Even children get older
And I'm getting older too
Well

Well, I've been afraid of changin'
Cause I've built my life around you
But time makes bolder
Children get older
And I'm getting older too

Well, I'm getting older too


Tentu saja tangis kejer ini paling sering terjadi waktu saya sedang kuliah di Belanda. Kebetulan waktu itu lagi tugas kelompok membuat landslide susceptibility map (nyambung wae), jadi mulailah mengunduh lagu ini yang versi Dixie Chicks dan Fleetwood Mac. Apalagi versi Fleetwood Mac, openingnya 'This is for you, Daddy.' Pada saat yang bersamaan, saya beneran jauh dari keluarga dan terhitung selama 18 bulan ga ketemu Papa sama sekali. Akibatnya, kangen akut.

Huhuhu *mellow mode on*

Waktu itu berbagai perasaan campur aduk kalau denger lagu ini sambil inget Papa. Saya memang lekat sekali dengan figur Papa ini. Berbagai keputusan penting dalam hidup (misalnya, beli laptop apa ya...) selalu lewat konsultasi dulu dengan Papa. Selama di Belanda, komunikasi agak tersendat karena sms dan telpon mahal sekali. Untung Papa melek teknologi (oh Papa saya memang keren sekali deh), rajin kirim e-mail dan bales-balesan komen di facebook. Hihihihi. Masih inget banget, waktu beberapa teman di Belanda sinis akan kebiasaan saya minum bir, Papa saya menulis di wall fb: “Jangan lupa coba bir Belgia. Papa waktu itu nyoba dan rasanya enak sekali.” Oh, he is definitely the coolest fellow to have beers with, in any bars!

Walaupun cukup sering bales-balesan text begitu, tapi selalu saja ada titik-titik terendah dimana saya ingin sekali ketemu Papa. Rasanya hidup terasa lebih mudah kalau dekat beliau. Apalagi jamannya tekanan thesis melanda sampai susah tidur. Saran Papa, jangan setress, jalan-jalan, berenang atau pijak refleksi, lalu dikirimlah peta pemijatan kaki, yang bukannya saya praktekkan malah bikin tambah sesenggukan. Maklum, namanya juga lagi nesis.

Setelah kembali ke tanah air, langsung kangen-kangenan. Tapi di awal-awal masih sering sesenggukan. Ketemu langsung Papa dan melihat giginya kok makin hari makin sedikit, saya jadi kepikiran. I’m gettin’ older too. Terus, saya udah ngapain aja ya? Apakah sudah cukup menunjukkan bahwa saya sangat sayang beliau? Huwaaa... Dari yang tadinya makan malem bareng, saya mendadak kabur ke kamar.        

Sekarang sudah lumayan sembuh. Sudah sering ketemu Papa, termasuk ngebir bareng. Waktu karaoke lagu ini pun, saya ga sedikit pun sedih, tanya aja sama Tanti dan Niken (ya iyalah, karaoke dilakukan selesai berenang, jelas masih hepi). Walaupun, ngaku deh, waktu nonton Gwyneth nyanyi lagi ini di Glee, masih sempet cirambay juga. Manis sekali mbak Gwyneth disini

Monggo dinikmati video klipnya, versi choir PS22 cover version-nya Fleetwood Mac (gurunya ganteng gilak). Landslide ala Fleetwood Mac sudah disematkan, yang versi Dixie Chicks-nya belum. Sementara, saya lap keyboard dulu ya.